A. Asal-usul Tari Perang Nias
Kepulauan Nias memiliki beragam budaya, khusus
di Teluk Dalam - Nias Selatan mempunyai ciri khas Budaya yaitu Tari Fatele dan
Hombo Batu. Lahirnya Tari Fetele ini sama halnya dengan Hombo batu. Dimana
dulunya di Teluk Dalam setiap kampung yang satu dengan yang lainnya suka
berperang dalam rangka memperluas daerah kekuasaan bahkan sampai merebut
kampung halaman orang lain. Setiap kampung di Teluk Dalam di pimpin oleh Si'ulu
(bangsawan) dan hingga sekarang ini masih terus ada Si'ulu di setiap kampung di
Teluk Dalam.
Untuk mempertahankan kekuasaan dan kampung halaman dari serangan kampung yang
lain Si'ulu bersama Si'ila (Penatua Adat) melatih para pemuda kampung untuk
berperang yaitu Fatele. Setiap pemuda yang tergabung dalam Fatele inilah yang
menjadi 'tentara' kampung sekaligus menjadi pasukan terdepan ketika kampung
halamannya di serang.
Sama
seperti Hombo batu dimana erat kaitannya dengan Fatele, setiap pemuda yang
sudah lulus dari Fatele akan di adakan pesta oleh Si'ulu dengan memotong babi
dan memberitahukan kepada warga kampung siapa saja para pemuda yang sudah
tergabung dalam barisan Fatele.
Pasukan
Fatele ini juga tidak hanya di gunakan oleh Si'ulu untuk berperang malainkan
juga di gunakan ketika ada acara si'ulu baik itu duka yaitu kematian keluarga
si'ulu maupun suka seperti mengangkat anaknya jadi Si'ulu, anak si'ulu nikah,
meresmikan Omo Hada dan juga menyambut tamu kehormatan yang mengunjungi kampung
halamanya.
Tari Fatele dan
Hombo Batu merupakan Budaya yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan
karna lahirnya kedua Budaya ini mempunyai sumber yang sama serta memiliki magna
yang sama yaitu untuk mempertahankan kampung halaman. Sama seperti Teluk Dalam
daerah lain juga di Kepulauan Nias memiliki ciri khas tersendiri seperti Tari
Moyo, Tari Famadogo Omo dimana kedua budaya ini tidak 'dikenal' di Teluk Dalam.
Saat Pertama kali
Pesta Ya'ahowu di adakan di Kepulauan Nias tahun 1983 Tari Fatele dan Hombo
Batu ini di bawakan oleh dua Desa di Teluk Dalam yang memiliki sanggar yaitu
Desa Bawomataluo dan Hiliganowo, dimana kedua sanggar dari desa ini juga yang
menyambut Bapak Adam Malik ketika berkunjung ke Kepulauan Nias tahun 1978.
B.Pesona Tari Perang Nias
Warga yang berkumpul di depan Homo Sebua atau rumah Raja mengenakan
pakaian warna warni. Tubuh mereka dihiasi berbagai atribut, menambah kesan
seram yang akan membuat jeri lawan mereka. Tangan kanan memegang tombak atau
parang sementara tangan kiri memegang perisai untuk menangkis serangan musuh.
Hentakan kaki nan dinamis mengiringi lagu perang penuh
semangat. Terus menari sambil mengayun parang serta tombak. Gerakan maju mundur
sambil meneriakan yel-yel bertujuan memancing musuh agar maju menyerang. Kemudian
dilanjutkan dengan membentuk formasi melingkar untuk mengepung musuh.
C.Keunikan Tari Perang Nias
Seperti
yang kita tahu setiap tari daerah pasti memiliki keunikan tersendiri. Dalam
Tari Perang ini, para penari menggunakan penutup kepala terbuat dari rotan,
besi, dan wol. Penari juga menggunakan rompi sebagai baju yang berwarna
kuning-hitam-merah. Penari juga menggunakan tombak atau golok sebagai senjata
dan tameng sebagai pertahanan.
Ciri
khas gerakan Tari Perang yaitu gerakannya meloncat maju mundur selama melakukan
tarian. Sehingga penampilan tariannya dibawakan dengan gerakan-gerakan yang
menggunakan tenaga yang kuat, dinamis, dan enerjik.
Jangan lupa tinggalkan komentar ^^