Translate

Sabtu, 17 Januari 2015

Tari Perang Nias

A.     Asal-usul Tari Perang Nias 
Kepulauan Nias memiliki beragam budaya, khusus di Teluk Dalam - Nias Selatan mempunyai ciri khas Budaya yaitu Tari Fatele dan Hombo Batu. Lahirnya Tari Fetele ini sama halnya dengan Hombo batu. Dimana dulunya di Teluk Dalam setiap kampung yang satu dengan yang lainnya suka berperang dalam rangka memperluas daerah kekuasaan bahkan sampai merebut kampung halaman orang lain. Setiap kampung di Teluk Dalam di pimpin oleh Si'ulu (bangsawan) dan hingga sekarang ini masih terus ada Si'ulu di setiap kampung di Teluk Dalam.
  Untuk mempertahankan kekuasaan dan kampung halaman dari serangan kampung yang lain Si'ulu bersama Si'ila (Penatua Adat) melatih para pemuda kampung untuk berperang yaitu Fatele. Setiap pemuda yang tergabung dalam Fatele inilah yang menjadi 'tentara' kampung sekaligus menjadi pasukan terdepan ketika kampung halamannya di serang.
Sama seperti Hombo batu dimana erat kaitannya dengan Fatele, setiap pemuda yang sudah lulus dari Fatele akan di adakan pesta oleh Si'ulu dengan memotong babi dan memberitahukan kepada warga kampung siapa saja para pemuda yang sudah tergabung dalam barisan Fatele.

Pasukan Fatele ini juga tidak hanya di gunakan oleh Si'ulu untuk berperang malainkan juga di gunakan ketika ada acara si'ulu baik itu duka yaitu kematian keluarga si'ulu maupun suka seperti mengangkat anaknya jadi Si'ulu, anak si'ulu nikah, meresmikan Omo Hada dan juga menyambut tamu kehormatan yang mengunjungi kampung halamanya.
Tari Fatele dan Hombo Batu merupakan Budaya yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan karna lahirnya kedua Budaya ini mempunyai sumber yang sama serta memiliki magna yang sama yaitu untuk mempertahankan kampung halaman. Sama seperti Teluk Dalam daerah lain juga di Kepulauan Nias memiliki ciri khas tersendiri seperti Tari Moyo, Tari Famadogo Omo dimana kedua budaya ini tidak 'dikenal' di Teluk Dalam.
Saat Pertama kali Pesta Ya'ahowu di adakan di Kepulauan Nias tahun 1983 Tari Fatele dan Hombo Batu ini di bawakan oleh dua Desa di Teluk Dalam yang memiliki sanggar yaitu Desa Bawomataluo dan Hiliganowo, dimana kedua sanggar dari desa ini juga yang menyambut Bapak Adam Malik ketika berkunjung ke Kepulauan Nias tahun 1978.
 
B.Pesona Tari Perang Nias
Warga yang berkumpul di depan Homo Sebua atau rumah Raja mengenakan pakaian warna warni. Tubuh mereka dihiasi berbagai atribut, menambah kesan seram yang akan membuat jeri lawan mereka. Tangan kanan memegang tombak atau parang sementara tangan kiri memegang perisai untuk menangkis serangan musuh.
Hentakan kaki nan dinamis mengiringi lagu perang penuh semangat. Terus menari sambil mengayun parang serta tombak. Gerakan maju mundur sambil meneriakan yel-yel bertujuan memancing musuh agar maju menyerang. Kemudian dilanjutkan dengan membentuk formasi melingkar untuk mengepung musuh.

C.Keunikan Tari Perang Nias
Seperti yang kita tahu setiap tari daerah pasti memiliki keunikan tersendiri. Dalam Tari Perang ini, para penari menggunakan penutup kepala terbuat dari rotan, besi, dan wol. Penari juga menggunakan rompi sebagai baju yang berwarna kuning-hitam-merah. Penari juga menggunakan tombak atau golok sebagai senjata dan tameng sebagai pertahanan.

Ciri khas gerakan Tari Perang yaitu gerakannya meloncat maju mundur selama melakukan tarian. Sehingga penampilan tariannya dibawakan dengan gerakan-gerakan yang menggunakan tenaga yang kuat, dinamis, dan enerjik.





Jangan lupa tinggalkan komentar ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar