Translate

Sabtu, 17 Januari 2015

Tugas Agama

Nama : Ivan Putra K. Zega
Kelas  : XI-RSBI

Soal :
1.  Amati & catatlah benda-benda disekitar gereja yang kamu anggap
kudus.

2. Dari benda-benda itu manakah yang paling agar kamu sebut benda yang paling kudus?

3. Berilah alasan mengapa benda iu disebut kudus.

Jawaban :
1.  Setelah mengamati gereja, ada beberapa benda yang menurut saya itu kudus, antara lain :
·        Salib
·        Tempat persembahan
·        Kotak sumbangan

2.  Menurut saya, yang paling menarik dan pantas disebut benda kudus adalah “Tempat persembahan”.

3. Alasan saya menyebut benda-benda itu kudus yaitu :
·     Salib à karena berada di tempat tertinggi dari semua benda
yang ada di gereja danjuga salib menunjukan simbol kesucian.
·     Tempat persembahan à karena setiap umat gereja memberikan persembahan kepada Tuhan dengan hati yang tulus dan setelah persembahan, tempat persembahan didoakan dan dikuduskan.

·     Kotak sumbangan à karena setiap sumbangan yang ada didalam kotak tersebut berasal dari hati yang tulus dan ikhlas yaitu para umat Allah di gereja.  

Tari Perang Nias

A.     Asal-usul Tari Perang Nias 
Kepulauan Nias memiliki beragam budaya, khusus di Teluk Dalam - Nias Selatan mempunyai ciri khas Budaya yaitu Tari Fatele dan Hombo Batu. Lahirnya Tari Fetele ini sama halnya dengan Hombo batu. Dimana dulunya di Teluk Dalam setiap kampung yang satu dengan yang lainnya suka berperang dalam rangka memperluas daerah kekuasaan bahkan sampai merebut kampung halaman orang lain. Setiap kampung di Teluk Dalam di pimpin oleh Si'ulu (bangsawan) dan hingga sekarang ini masih terus ada Si'ulu di setiap kampung di Teluk Dalam.
  Untuk mempertahankan kekuasaan dan kampung halaman dari serangan kampung yang lain Si'ulu bersama Si'ila (Penatua Adat) melatih para pemuda kampung untuk berperang yaitu Fatele. Setiap pemuda yang tergabung dalam Fatele inilah yang menjadi 'tentara' kampung sekaligus menjadi pasukan terdepan ketika kampung halamannya di serang.
Sama seperti Hombo batu dimana erat kaitannya dengan Fatele, setiap pemuda yang sudah lulus dari Fatele akan di adakan pesta oleh Si'ulu dengan memotong babi dan memberitahukan kepada warga kampung siapa saja para pemuda yang sudah tergabung dalam barisan Fatele.

Pasukan Fatele ini juga tidak hanya di gunakan oleh Si'ulu untuk berperang malainkan juga di gunakan ketika ada acara si'ulu baik itu duka yaitu kematian keluarga si'ulu maupun suka seperti mengangkat anaknya jadi Si'ulu, anak si'ulu nikah, meresmikan Omo Hada dan juga menyambut tamu kehormatan yang mengunjungi kampung halamanya.
Tari Fatele dan Hombo Batu merupakan Budaya yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan karna lahirnya kedua Budaya ini mempunyai sumber yang sama serta memiliki magna yang sama yaitu untuk mempertahankan kampung halaman. Sama seperti Teluk Dalam daerah lain juga di Kepulauan Nias memiliki ciri khas tersendiri seperti Tari Moyo, Tari Famadogo Omo dimana kedua budaya ini tidak 'dikenal' di Teluk Dalam.
Saat Pertama kali Pesta Ya'ahowu di adakan di Kepulauan Nias tahun 1983 Tari Fatele dan Hombo Batu ini di bawakan oleh dua Desa di Teluk Dalam yang memiliki sanggar yaitu Desa Bawomataluo dan Hiliganowo, dimana kedua sanggar dari desa ini juga yang menyambut Bapak Adam Malik ketika berkunjung ke Kepulauan Nias tahun 1978.
 
B.Pesona Tari Perang Nias
Warga yang berkumpul di depan Homo Sebua atau rumah Raja mengenakan pakaian warna warni. Tubuh mereka dihiasi berbagai atribut, menambah kesan seram yang akan membuat jeri lawan mereka. Tangan kanan memegang tombak atau parang sementara tangan kiri memegang perisai untuk menangkis serangan musuh.
Hentakan kaki nan dinamis mengiringi lagu perang penuh semangat. Terus menari sambil mengayun parang serta tombak. Gerakan maju mundur sambil meneriakan yel-yel bertujuan memancing musuh agar maju menyerang. Kemudian dilanjutkan dengan membentuk formasi melingkar untuk mengepung musuh.

C.Keunikan Tari Perang Nias
Seperti yang kita tahu setiap tari daerah pasti memiliki keunikan tersendiri. Dalam Tari Perang ini, para penari menggunakan penutup kepala terbuat dari rotan, besi, dan wol. Penari juga menggunakan rompi sebagai baju yang berwarna kuning-hitam-merah. Penari juga menggunakan tombak atau golok sebagai senjata dan tameng sebagai pertahanan.

Ciri khas gerakan Tari Perang yaitu gerakannya meloncat maju mundur selama melakukan tarian. Sehingga penampilan tariannya dibawakan dengan gerakan-gerakan yang menggunakan tenaga yang kuat, dinamis, dan enerjik.





Jangan lupa tinggalkan komentar ^^

Rabu, 08 Oktober 2014

VISI & MISI KULIAH DI TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

VISI : Menjadi seorang planner yang berguna di tengah masyarakat dan bagi negara, membangun tempat           kelahiran, menjadi seorang pemimpin yang baik, dan mampu berusaha mandiri.
MISI : Belajar dan bersosialisasi baik di dalam kampus maupun diluar kampus. Mendekatkan diri kepada
           hal-hal yang positif. Serta mengasaha terus potensi dalam diri.

TELUK DALAM, NIAS SELATAN : KOTA KECIL DAN TERPENCIL YANG MEMILIKI BERAGAM POTENSI

Hombo Batu
       Pulau Nias merupakan sebuah pulau yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera. Pulau Nias yang dalam bahaas Niasnya "Tano Niha" dihuni oleh mayoritas suku nias. Di darah seltan pulau ini terdapat sebuah kota kecil yang bernama kota Teluk Dalam. Dan disinilah tempat kelahiran saya.
       Teluk Dalam merupakan salah satu nama kota yang ada di Pulau Nias. Diamana tatanan kotanya masih semberawut dan belum bisa memenuhi persyaratan kota yang baik. Dimana, dapat kita saksikan jika berada disana masalah persampahan ditengah kota tidak menjadi perhatian lagi bagi masyarakat maupun pemerintah sebab kurang tersedinya sarana dan prasarana persampahan.

       Tidak seperti kota-kota kecil lainnya di Indonesia, Teluk dalam tidak memiliki infrastrutur jalan yang luas dan baik. Masih saja terdapat ruas-ruas jalan yang rusak, dan lebar jalanannya masih sempit, serta tidak banyak terdapat trotoar. Selain itu juga, rambu-rambu lalu lintas sangat minim seperti lampu merah yang bahkan tidak ada sama sekali disana.



Pantai Sorake
Tari Perang (Adat & Budaya)
       Namun, di balik itu semua kota Teluk dalam masih bisa bangkit dan menjadi kota kecil yang baik. Karena disana masih banyak terdapat ruang-ruang kosong yang masih di tumbuhi dengan tumbuhan hijau, dan sebenarnya apabila disana ditugaskan seorang planner yang baik, maka Teluk dalam bisa berubah 100% dari sebelumnya. Jika membangun di Teluk Dalam ibaratnya seperti membangun ulang sebuah kota mati. Selain itu juga disana terdapat beragam potensi wisata yang bisa mengundang khalayak banyak untuk mampir ke pulau Nias. Seperti Pantai Sorake, Pantai Lagundri, Pantai Baloho, Hombo Batu di desa Bawomataluo, dan berbagai macam suku dan budaya yang masih kental disana.

       Dan apabila saya sudah lulus di Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah & Kota Undip nantinya yang pertama akan saya bangun yaitu kota kelahiran saya "Kota Teluk Dalam"